BALAIRUNG SARI SEBUAH IKON BUDAYA DAN PARIWISATA SEJARAH

Tinggalkan komentar

4 Oktober 2012 oleh lpmnagaritabek

Gambar

BALAIRUNG SARI

SEBUAH IKON BUDAYA DAN PARIWISATA SEJARAH

 

 

  1. A.    MUQADDIMAH

Balairung Sari Tabek (Sebelum tahun 1983, bernama Balairung Panjang) yang berada di Nagari Tabek Kec. Pariangan Kab. Tanah Datar merupakan salah satu khazanah objek pariwisata bernilai sejarah dan budaya di daerah ”Luhak Nan Tuo”, sampai saat ini tetap terpelihara kelestarian dan keorisinalannya sebagai kekayaan alam  Minangkabau  .

Konstruksi Bagunan Balairung Sari Tabek merupakan hasil karya yang memiliki perpaduan dari kondisi alam, budaya, kebutuhan sosial nenek moyang Minangkabau yang telah berhasil dicitrakan dalam penampilan karya-karya arsitekturnya yang mengagumkan.

Selanjutnya perhatian Pemerintah untuk menjaga dan melestarikan Balirung Sari sebagai Bangunan Cagar budaya sangat besar, meskipun telah dilakukan rehabilitasi, tetapi tidak mengalami perobahan bentuk wujud dari bangunan Balairung Sari itu sendiri sebagaimana awal pendiriannya, yakni tiang/tonggak berjumlah 36 buah. Paran-paran berjumlah dua buah dengan panjang 47 x 8 x 12 m. Kasau-kasau yakni kayu kerangka yang dipasang untuk menghubungkan para-para dan kuda-kuda. Kasau bangunan ini berjumlah 102 buah dengan ukuran panjang 6 x 12 x 6 cm yang susunannya atau bentuknya tidak sama unjung pangkalnya. Gonjong yang terdapat pada atap balairung ada 6 buah. berbentuk kerucut. Atap terbuat dari ijuk merupakan salah satu ciri khas dari banguan tradisional Minangkabau. Ruangan-ruangan Balairung Sari berjumlah 17 ruangan yang membujur dari utara ke selatan. Lantai bangunan Balairung Sari rata tanpa anjung. Tangga adalah satu bagian dari bangunan Balairung Sari yang pertama dan terakhir dilewati,. berjumlah dua buah dibagian kiri dan kanan bangunan Balairung Sari dengan jumlah anak tangganya masing-masing 4 buah. Bangunan ini tidak memiliki ornamen atau hiasan-hiasan layaknya bangunan tradisional di Minangkabau penuh dengan berbagai jenis ukiran, hiasan  maupun pahatan.

Balairung Sari yang sudah dari ”saisuak” di kenal, menakjubkan, baik dipahami dari segi filosofis arsitertur bangunannnnya maupun dipandang dari segi fisik bagunan itu sendiri – sangat mengangumkan – namun keberadaannya belum terolah secara maksimal untuk dikembangkan menjadi sebuah karya besar sebagai sumber inspirasi kekuatan budaya dan sosial-ekonomi masyarakat Minangkabau maupun masyarakat Nagari Tabek sendiri, apalagi bagi  wisatawan lokal maupun manca negara, karena belum adanya tambahan fasilitas pelengkap dan pendukung  yang memadai serta kemasan atraksi seni-budaya lokal/tradisional yang menarik

Untuk itu kedepan masih terbuka luas kesempatan bagi kita untuk bergerak lebih teratur dan terencana untuk pengembangan Balairung Sari ”SEBAGAI  SUMBER  DATA, INFORMASI SEJARAH MINANGKABAU, PUSAT KAJIAN MELAYU SERUMPUN DAN GEDUNG KEGIATAN SENI – BUDAYA, SEKALIGUS OBJEK WISATA SEJARAH DAN BUDAYA”dilakukansecara sistematis, inovatif dan profesional, baik dari kalangan pemangku adat, masyarakat maupun pemerintah, semua itu adalah sebagai tanggung jawab bersama untuk melestarikannya.

 

Visi      :  Mengoptimalkan Pengelolaan dan fungsi Balairung Sari sebagai Aset  Sejarah dan Budaya Minangkabau dan Pusat Kajian Melayu dari bersifat  lokal kepada global untuk membina masyarakat Minangkabau bermoral agama, berpendidikan dan berbudaya”.

 

Misi     : 1.  Meningkatkan dan mengembangkan Balairung Sari Tabek sebagai Objek Wisata Sejarah dan Budaya  dengan pendekatan agama, adat, dan budaya  

  1. Mengembangkan Balairung Sari dari bersifat  lokal kepada global dengan tanpa meninggal keorisinalannya, wawasan lingkungan dan  pesona alam lokal yang bernilai tinggi.
  2. Menjadikan Balairung Panjang Center Sebagai Pusat Pengkajian Melayu Serumpun
  3. Peningkatan dan pemberdayaan peran serta masyarakat dalam pengembangan Balairung Sari
  4. Membangun SDM pengelola Balairung Sari berkualitas dan profesional, sehingga mampu mengangkat dan mempromosikan Balairung Sari  di tingkat nasional dan internasional
  5. Memanfaatkan teknologi-informasi sebagai pusat data dan informasi tentang budaya, sejarah dan perkembangan Balairung Sari
  6. Terwujudnya Balairung Sari menjadi objek dan daya tarik wisata dengan nuansa lokal, kompetitif dan berdaya saing
  7. Mewujudkan Balairung Sari sebagai salah satu penghasil devisa nagari Tabek
  8. Terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi pengembangan wisata yang dapat membuka lapangan kerja.

Hal ini selaras dengan fisi dan misi Pemerintahan Nagari Tabek

Visi         :  Mengoptimalkan Potensi Nagari Tabek bermoral agama, berpendidikan dan berbudaya 

Misi        :  1.   Pembenahan dan pembinaan akhlak anak nagari sebagai aset bangsa.

2        Pengembangan, peningkatan dan pemanfaatan Sumber daya Manusia (SDM) anak nagari memelalui pendidikan, pelatihan dan praktek kerja.

  1. Pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui usaha kecil dan koperasi, bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan pariwisata yang terlembaga dengan baik.
  2. Menghidupkan fungsi masjid dan surau dengan profesional sehingga terbentuk kekuatan ibadah berjamaah dan ekonomi social masyarakat
  3. Perwujudan pemerintah nagari yang amanah, transparan dan berbasis teknologi informasi yang memadai
  4. Menciptakan nagari sadari hukum yang didukung oleh semua unsur masyarakat nagari
  5. 7.      Mengembangkan kreasi dan inovasi anak nagari di bidang olah raga, budaya dan seni yang berorientasi prestasi.
  6. Menumbuhkembangkan kebersamaan dan jembatan hati seluruh warga nagari baik yang menetap dikampung maupun dirantau dalam membangun nagari untuk semua bidang.

 

Salah satu upaya mencapai maksud tersebut  di atas Pemerntahan Nagari Tabek, (Wali Nagari, BPRN, KAN, Badan Usaha Nagari (BUN), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM),   Lembaga-lembaga Unsur (Alim Ulama, Niniak-Mamak, Cadiak Pandai, Bundo Kandung dan Pemuda) dan Pengurus Yayasan Balairung Panjang Nagari Tabek memprogramkan ”PEMBANGUNAN GEDUNG BALAIRUNG SARI CENTER (BSC)” di belakang Balairung Sari, sebagai sarana pendukung bagi Balairung Sari itu sendiri

.

B.     MAKSUD DAN TUJUAN

1.  Maksud

–      Membangun sebuah gedung multifungsi di komplek Balairung Sari Tabek yang terletak dibelakang Balirung Sari Tabek. Disebut ”Gedung Balairung Sari Centre (BSC)”.

–      Menjadikan Balairung Panjang Centre sebagai “Sumber Data  Sejarah dan Budaya, Pusat Pengkajian Ilmiah Minangkabau dan Melayu Serumpun, Sarana Pendidikan dan Pelatihan, Gedung seni dan budaya sekaligus sebagai media promosi  wisata budaya dan sejarah Minangkabau”

–      Memberdayakan Balairung Sari Tabek dalam spektrum yang lebih luas, bukan hanya sebagai sebuah situs purbakala – cagar budaya yang berdiri mati, tapi juga sumber devisa negara dan pendapatan daerah serta nagari.

–      Konstruksi Bangunan yang akan di bangun :.

  1. Luas bangunan 18 m x 37 m 
  2. Bangunannya  tiga tingkat 
  3. Lantai satu terdiri dari 

–          Aula (berfungsi sebagai tempat pertemuan, seminar, raker, pelatihan, dll)

–          Ruang peralatan/perlengkapan kegiatan seni, kreasi, dll yang akan ditampilkan di pentas terapung

–          Dua  buah ruang ganti pakaian bagi peserta yang akan tampil di pentas terapung (untuk laki-laki dan untuk perempuan)

–          gallery museum  dan Ruang Pajang Souvenir

–          Mini Market   

–          Kamar mandi dan wc yang kondusif

  1. Lantai dua berfungsi sebagai :

–          Kamar penginapan

–          dan ruang makan

  1. Lantai Tiga berfungsi sebagai

–          Sekretariat/kantor Balairung Panjang Centre (BPC)

–          Ruang penerbitan/percetakan

–          Ruang Perpustakaan dan Perangkat Komputer (IT) sebagai sumber data dan terknologi informasi

2.   Tujuan

–          Menciptakan aktifitas seni-budaya, pendidikan, Penelitian Ilmiah,  pelatihan dan penampilan karya anak nagari yang berkesinambungan di komplek Balairung Sari, antara lain :

  • Pelatihan/pendidikan  adat, budaya  dan seni Alam Minangkabau
  • Tempat kegiatan Pengkajian Adat dan Budaya Minangkabau dan Melayu Serumpun
  • Penampilan kreasi seni dan paket budaya secara teratur dan terprogram
  • Penampilan Prosesi adat dan budaya minangkabau.
  • Pertemuan Masyarakat Nagari Tabek – rantau dan kampuang – waktu pulang basamo/halal bilhalal di hari raya Idul Fitri.

–          Menjadikan Balairung Panjang Centre sebagai tempat yang kondusif dan tentram bagi pengunjung yang ingin mengadakan rapat kerja (raker) maupun kunjungan wisata, baik dari lembaga pemerintahan maupun swasta atau wisatawan.

–          Meningkatkan akses para pengunjung ke Balairung Sari Tabek   dengan nuansa lokal, kompetitif dan berdaya saing.

 

Untuk mewujudkan hal-hal tersebut diatas maka perlu didukung dengan :

  • Peta Nagari Tabek
  • Master Plan Komplek Balairung Sari Tabek dan Balairung Panjang Centre yang akan di Bangun 
  • Sarana pendukung yang representatif
  • SDM yang memadai sesuai dengan fungsi Balairung Sari
  • Managemen pengolahan Balairung Sari  secara professional yang berorientasi ke kinian, namun tetap memperhatikan tentang fungsi Agama adat, ekonomi dan sosial budaya masyarakat.

C. LATAR BELAKANG

 

Adapun yang melatar belakangi Pemerintah Nagari Tabek dan Yayasan Balairung Panjang untuk mengangkat program “PEMBANGUNAN GEDUNG BALAIRUNG SARI CENTRE”  ini  antara lain :

  1. Sekarang ini Balairung Sari dalam perkembangan konstalasi masyarakat Minangkabau tidak lagi terlihat sebagaimana mestinya,  keberadaanya seakan jalan di tempat, statis, dan pada satu sisi seakan hanya benda mati tanpa makna, kecuali ”sebagai sebuah cagar budaya – Situs purbakala” yang harus dipelihara dan dijaga sebagai aset negara.
  2. Fungsi Balairung Sari  sekarang sudah berobah, Balairung Sari Tabek saat ini tidak lagi memiliki peran sebagaimana fungsi sesungguhnya, padahal masa lampau Balairung Sari Tabek adalah tempat bermusyawarahnya para pemangku adat, pertemuan anak nagari, pusat budaya, dan lain-lain

Segala hal yang bersangkut paut dengan persoalan adat di bicarakan dan diputuskan di Balairung Sari, namun sekarang, jangankan mengadakan musyawarah disana bahkan keberadaan dan fungsi Balairung Sari bagi sebagian orang Minangkabau sendiri ada yang tidak tahu sama sekali. Disamping itu karena perkembangan zaman dan pergeseran pola hidup  juga sangat mempengaruhi kondisi demikian, musyawarah adat dan hal-hal yang bersangkutan dengan adat  yang seyogyanya dibicarakan oleh  niniak mamak di Balairung Sari namun banyak dibicarakan dan dibahas di gedung-gedung pemerintah, atau di aula hotel-hotel, seperti acara seminar adat, loka karya tentang adat, bahkan untuk pelatihan adat pun pelaksanaannya bukan di Balairung Sari.

  1. Apakah Balairung sari bersifat lokal atau global ? atau apakah Balairung sari bisa sejalan dengan perkembangan budaya dan arsitektur bangunan pada era globalisasi sekarang ini ?, atau sebaliknya akan terlindaskah Balairung Sari oleh kecendrungan masyarakat Minangkabau menghadapi arus globalisasi.

Untuk itu Pengembangan Balairung Sari kedepan lebih bermuara kepada ikon pariwisata budaya dan sejarah, pendidikan, dan Penelitian/kajian ilmiah adat dan budaya Minangkabau dan Melayu. Dari sisi ini tanpaknya peluang lebih besar untuk mengembangkan Balairung Sari dari bersifat  lokal kepada global dengan tanpa meninggal keorisinalannya.  

  1. Makin hilangnya kecintaan generasi muda Minangkabau khususnya di Nagari Tabek atau bisa jadi Luhak Tanah Datar terhadap khazanah budayanya sendiri, hal ini dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari :
    1. Pemahaman dan pengamalan ajaran agama dan adat istiadat (budaya) terasa dangkal.
    2. Budaya “ikut-ikutan” tanpa saringan merebak, bangga dengan budaya asing, asing dengan budaya sendiri. Lebih mengahargai bahkan lebih tahu tentang cagar budaya daerah lain dibanding aset daerah sendiri
    3. Jangankan untuk memahamai kekayaan situs cagar budaya  daerah sendiri untuk merasa memilikipun terasa tidak ada (barangkali karena sudah setiap hari menyaksikan cagar budaya tersebut)
    4. Akibatnya, setengah hati untuk mengelola Kekayaan khazanah budaya yang dimiliki untuk di promosikan kepada daerah lain atau manca negara
    5. Minim sekali keinginan generasi muda untuk meneliti dan mengkali atau menulis khazanah keminangkabauan/melayu.
    6. Belum nampak pengaruh Balairung Sari untuk meningkatkan ekonomi Masyarakat sekaligus pendapatan bagi nagari Tabek. hal ini terlihat dari minimnya wisatawan yang datang mengunjungi  Balirung Sari. Karena sarana dan prasarana sangat minim.

 

  1. D.    KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN DI BALAIRUNG SARI

 

Diantara kegiatan yang telah dilaksanakan di Balairung Sari antara lain :

  1. Perhelatan Malewakan Batagak Gala Niniak Mamak Nagari Tabek (terakhir 2009)
  2. Pertemuan Bulanan Bundo Kanduang dan PKK Nagari Tabek
  3. Musrenbang Nagari Tabek tiap tahun
  4. Pertemuan Masyarakat Nagari Tabek – rantau dan kampuang – waktu pulang basamo hari raya Idul Fitri.
  5. Terkadang Raker Instansi Pemerintahan Kecamatan, dan Kabupaten  Tanah Datar
  6. Kunjungan Organisasi-organisasi seperti KNPI, Pertukaran Pemuda baik antar propinsi maupun antar negara
  7. Kunjungan Study  bagi pelajar maupun mahasiswa.
  8. Kegiatan Penelitian bagi Mahasiswa, LSM, Organisasi atau instansi pemerintah
  9. Pelatihan Adat yang diangkat oleh LKAAM (tahun 2009)
  10. Raker atau Kunjungan wisata yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
  11. Peragaan  makan Bajamba dalam pelaksanaan musyawarah maupun raker yang dilaksankan baik oleh anak nagari maupun Institusi Pemerintah atau organisasi yang mengadakan pertemuan di Balairung Sari Tabek
  12. Perlombaan Kesenian bagi Siswa SD, SLTP maupun SMA dan pemuda Nagari Tabek
  13. Kegiatan senam lansia satu kali seminggu
  14. Shooting seni, film, dokumen
  15. Penyampaian Visi dan  Misi  Calon Wali Nagari serta pelantikannya 
  16. Pertemuan Forum Komunikasi Wali Nagari (FKWN)TP PKK Tanah Datar  (2010)
  17. dll

 

  1. E.     PROGRAM DAN KEGIATAN STARATEGIS

Program     :  1.  Mempersiapkan Master plan Balairung Sari Centre, baik master plan konstruksi fisik  Balairung Sari maupun Peta Nagari Tabek

  1. Membangun Gedung Balairung Panjang Centre dibelakang Balairung Sari Tabek
  2. Mempersiapkan  Sarana pendukung yang representatif  yang kondusif
  3. Membina SDM yang memadai dan profesional untuk mengelola Balairung Sari Center sesuai dengan fungsi Balairung Sari
  4. Memprogramkan Managemen pengolahan Balairung Sari Center secara professional, namun tetap memperhatikan nilai nilai Agama, adat, ekonomi dan sosial budaya masyarakat.
  5. Memabangun kerjasama antar lembaga dan instansi terkait serta investor.

Kegiatan Startegis    :  1.   Meningkatkan dan mengembangkan Balairung Sari sebagai ikon pariwisata dan kebudayaan dengan pendekatan Agama, adat, budaya demi terciptanya ketahanan budaya daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat

  1. Mengembangkan produk wisata dengan wawasan lingkungan dan bertumpu pada budaya daerah, bernilai tinggi dan berdaya saing global
  2. Peningkatan dan pemberdayaan peranserta pemangku adat dan masyarakat dalam pengembangan Balirung Sari sebagai objek wisata dan seni budaya
  3.  Mewujudkan industri pariwisata dan kebudayaan sebagai salah satu penghasil pendapatan daerah
  4. Meningkatkan pendidikan dan keterampilan insan-insan Wisata budaya dan sejarah
  5. Menciptakan suasana yang kondusif untuk menarik kunjungan wisatawan dan investor

 

 

F.  KENDALA DAN MASALAH

Beberapa kendala dan masalah yang dihadapi saat ini, antara lain:

  • Potensi Balairung Sari belum dikembangkan dan dipasarkan secara optimal
  • Kegiatan yang dilaksanakan di Balairung Sari masih berorientasi pada kegiatan serimoni dan kunjungan melihat fisik bangunan Balirung Sari
  • Sarana dan prasarana yang ada saat ini belum memadai
  • Kurangnya tenaga profesional dalam pengelolaan wisata Balirung Sari sebagai Objek Wisata dan Seni Budaya
  • Pengeloaan dan pembanguna komplek Balirung Sari Masih terbatas

 

  1. G.    YAYASAN BALAIRUNG PANJANG NAGARI TABEK

 

Bagi Masyarakat Nagari keberadaan Yayasan Balairung Panjang Nagari Tabek memiliki arti yang sangat penting, meskipun baru berumur 6 tahun, namun peran dan kegiataannya sangat membantu secara riil yakni bersentuhan langsung dengan masyarakat dan Pemerintahan Nagari Tabek, hal ini tak lepas dari upaya pembentukan yayasan Balairung Panjang sendiri, Yayasan ini lahir dari keinginan masyarakat nagari Tabek  sendiri  dan tokoh-tokoh masyarakat Nagari Tabek  yang berada di perantauan.

Yayasan Balairung Panjang yang di ketuai oleh Dr. Afif Zamzami Dt. Bandaro Putiah, M.Psi telah memiliki Akte Notaris : Muhammad Taufiq. SH nomor 02 tanggal 4 Novembeer 2004 dengan dan Berbadan Hukum dengan pengesahan Departemen Hukum dan Hak Azazi Manusia Nomor : C-68.HT.01.02.TH 2005 tanggal 18 Januari 2005 dan juga telah memiliki NPWP : 02.4.20.184.0-402.000.

Adapun kegiatan Yayasan Balairung Panjang Nagari Tabek bekerjasama dengan Pemerintahan Nagari ádalah :

a. Pelatihan Adat

    1. Pelatihan Adat Salingka Nagari Pesertanya adalah Niniak mamak Senagari Tabek tahun 2008
    2.  Pelatihan Adat Salingka Nagari Pesertanya adalah Niniak mamak dan Bundo Kanduang Senagari Tabek tahun 2009
  1. Penulisan Buku/Penelitian
  1. Buku Historigrafi Balairung Sari merupakan buku pertama yang diterbitkan oleh yayasan Balairung Panjang
  2.  

 

Ternyata dengan diterbitkan Buku Historiografi Balairung Sari, banyak masukaan dan saran yang disampaikan kepada pengurus Balairung Panjang dan Kerapan Adat Nagari (KAN) terutaman kepada kepada Pemerintahan Nagari untuk membuat buku  tentang  adat dan budaya termasuk buku saku bagi para pengunjung di balairung sari.

Menanggapi saran dan harapan dari masyarakat baik yang dikampung maupun di perantauan, setela diadakan musyawarah antara pengurus Balairung Panjang dengan Pemerintahan Nagari, memang dibutuhkan keseriusan dan kelengkapan sarana prasarana dan dukungan modal untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas.

Adapun tindak lanjut dari tulisan Historiografi Balairung Sari, akan di tulis buku-buku lainnya, antara lain :

  1. Modul Pelatihan untuk kader pemangku adat
  2. Petunjuk Teknis penyelesaian masalah sako pusako
  3. Pedoman Pengalihan penghulu yang punah
  4. Pedoman pengaturan pagang gadai
  5. Pedoman Pelaksanaan tugas penghulu yang merantau
  6. Pedoman plaksanaan hukum adat
  7. Panduan adat salingka nagari
  8. Buku Pedoman Guru Pendidikan Budaya Alam Minangkabau
  9. Buku Literatur Matrilinial
  10. Buku Literatur Psikobudaya Minangkabau
  11. Pengemasan sosialisasi budaya melalui CD, Film dan Internet
  12. Penelitian konsep diri Keminangkabauan
  13. Kembali kesurau dalam eraglobalisasi
  14. Penelitian Kajian Minangkabau dan melayu serumpun
  15. dan seterusnya

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: